| January 2009 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
|   |   |   |   | 1 | 2 | 3 |
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |

Bisa jadi saat ini saya sedang dalam masa hibernasi, tetapi bisa juga saya mengalami gejala penyakit M atau yang biasa disebut penyakit malas. Sobat baraya bisa menghitung senditi berapa hari saya tidak menulis blog sejak posting-an terakhir. Menurut Kamus Encarta 2006, Hibernation adalah masa pengurangan aktivitas yang biasanya terjadi pada hewan saat musim dingin. Mereka lebih banyak bergelung pada sarang-sarang yang hangat, menghemat energi yang tersimpan dalam bentuk lemak yang sudah dipersiapkan menjelang musim dingin. Dengan cara seperti ini, mereka pun berhasil melewati musim dingin dengan baik. Hibernasi sudah pasti berkonotasi positif, tetapi tidak dengan penyakit malas. Menurut KBBI, malas adalah tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan, tidak suka, tidak bernafsu.
Siapa pun bisa terkena penyakit M. Dari pelajar, mahasiswa, hingga karyawan, ibu rumah tangga, bahkan pengangguran sekalipun. Malas dalam psikologi sudah dimasukkan sebagai salah satu bentuk perilaku. Menunda pekerjaan atau menyelesaikan tugas tapi tidak sesuai waktu yang sudah ditetapkan saja sudah bisa disebut perilaku malas. Muara perilaku ini sudah tentu penurunan produktivitas yang bersangkutan. Kabar baiknya, perilaku ini bukanlah kartu mati yang tidak bisa diubah.
Seseorang bisa berperilaku malas terhadap suatu pekerjaan atau kegiatan karena dia tidak memiliki motivasi untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan itu. Dalam psikologi, seseorang berperilaku tertentu karena adanya energi yang mendorongnya untuk berperilaku. Energi inilah yang disebut motivasi, yakni hal yang mendorong seseorang bertingkah laku mencapai suatu tujuan.
Motivasi dipengaruhi oleh suatu sikap yang terdapat dalam diri orang itu. Sikap yang bisa positif atau negatif itu timbul lantaran adanya persepsi atau pemberian makna terhadap suatu objek atau peristiwa. Persepsi atau pemberian makna tersebut ditentukan oleh suatu sistem nilai, yakni suatu patokan untuk berperilaku yang berlaku pada suatu lingkungan tertentu. Sistem nilai yang tertanam dalam diri seseorang ini dipengaruhi oleh budaya, masyarakat, dan orang tua.
Salah satu etnis di Indonesia terkenal rajin dan serius dalam bekerja. Perilaku ini muncul lantaran mereka memiliki suatu sistem nilai bahwa kalau ingin hidup layak, mereka harus bekerja keras. Sistem nilai itu telah ditanamkan oleh orang tua sejak kecil dalam perilaku sehari-hari, baik dalam memarahi, memberi nasihat, atau memberi suatu contoh. Lingkungan budaya etnis ini juga memberikan teladan. Mereka yang hidup layak ya karena mereka bekerja keras. Sebaliknya, yang hidupnya berkekurangan lantaran tidak mau bekerja keras.
Pada budaya kantor, karyawan yang “menganut” nilai RMS (rajin malas sama saja) bakal menjadi malas melakukan tugasnya. Akan tetapi berbanding terbalik ketika ia bekerja pada kantor yang nilai profesionalismenya dijunjung tinggi. Prinsip ‘Jika kamu bekerja baik, imbalannya akan baik. Jika kamu tidak bekerja baik atau prestasi rendah, imbalannya juga rendah, kalau perlu di-PHK’ tentu akan memberikan motivasi positif dalam pekerjaannya.
Kalau seseorang malas terhadap suatu pekerjaan, artinya motivasi dia terhadap pekerjaan tersebut sangat rendah. Sikapnya terhadap pekerjaan itu negatif akibat persepsi yang diberikannya terhadap pekerjaan itu kurang baik. Ini lantaran sistem nilai yang ada dalam dirinya membuat dia berperilaku malas untuk melakukan pekerjaan itu. Sementara terhadap pekerjaan lainnya mungkin tidak begitu. Jadi, perilaku malas merupakan hasil suatu bentukan. Artinya, perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi baik atau tidak malas.
Pembentukan kembali perilaku seseorang tadi sebetulnya sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, bisa orang tua, teman, atau orang lain di sekitarnya. Lingkungan yang bisa memberi pengaruh lebih kuatlah yang bisa membentuk seseorang. Dalam mengubah perilaku seseorang, yang paling mendasar adalah mengubah persepsinya. Untuk itu, perlu mempelajari dan mengambil sistem nilainya yang bisa mengubah persepsinya atau memberikan sistem nilai lain yang baru baginya.
Perilaku manusia pada dasarnya memang dapat diubah. Namun, ada hal yang tidak dapat diubah, yakni perilaku-perilaku yang erat kaitannya dengan fisik. Misalnya, seseorang yang berkaki panjang sebelah tidak bisa disuruh berperilaku jalan normal atau seseorang yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi disuruh untuk tidak marah atau waswas. Anak yang tingkat kecerdasannya rendah, relatif sulit untuk di-charge (dimotivasi) menjadi rajin. Kalau dia tidak mampu dalam hal pelajaran matematika, sudah tentu energi untuk belajar matematikanya juga kurang. Ujung-ujungnya, perilaku yang ditampilkan adalah malas belajar matematika atau bahkan malas sekolah. Ada juga anak yang mampu, tapi orang tua membandingkan kepintarannya dengan kakak atau adiknya. Lama-lama akan terbentuk konsep diri yang negatif. Akhirnya, dia memberikan makna pada matematika sebagai sesuatu yang sulit. Padahal, sebenarnya dia mampu.
Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk melakukan pembentukan perilaku seseorang, di antaranya dua teori pembiasaan yang dikemukakan oleh Dollard, Miller, dan Bandura yang ketiganya psikolog dari AS. Teori ini kira-kira senada dengan pepatah “Ala bisa karena biasa”. Teori pertama adalah teori belajar yang dikemukakan oleh Dollard & Miller. Bagaimana kita memberikan stimulus (rangsangan) supaya terbentuk suatu respons atau perilaku. Bagaimana stimulus itu menjadi cue (stimulus dalam dirinya yang mengarahkan untuk berbuat), sehingga menimbulkan suatu drive (dorongan) untuk berperilaku. Kalau berhasil, dia akan mendapatkan reward (imbalan).
Teori lain yang dikemukakan Bandura sering disebut teori panutan. Dalam teori ini ada stimulus dalam bentuk oral atau visual yang diberikan oleh seorang model atau tokoh. Stimulus ini disimpan atau diingat, dan suatu saat akan dilakukan sebagai suatu perilaku. Dari tindakannya dia akan mendapatkan suatu reward. Contohnya, dalam suatu keluarga ada orang tua yang giat bekerja dan selalu menasihati anak untuk mencapai prestasi. Anak, yang melihat orang tuanya bekerja keras (visual) dan sering memberikan nasihat atau cerita (oral) soal perlunya bekerja keras, akan timbul persepsi bahwa sesuatu itu dapat diperoleh dengan kerja keras. Dari sana bakal terbentuk tingkah laku kerja keras dalam diri anak.
Mudah2an, malas yang menyerang saya kali ini adalah proses hibernasi agar energi yang tersimpan benar-benar efektif setelah proses ini berakhir. Tidak hanya sekadar tidur malas2an atau santai berhari-hari yang (justru) bisa menyedot energi lebih banyak lagi. Semoga saja. Lalu … bagaimana dengan sobat baraya?
Wallahu’alam.[]
Aseli! Ditulis oleh Bang Aswi dengan menggunakan nama aseli.... ^_^
KabarIndonesia - Suatu kenyataan terpampang di hadapan mata. Pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan telah mencapai 18% di atmosfer. Selama 310 hari atau 85% dari 365 hari dalam setahun, kualitas udara di Kota Bandung tergolong buruk karena berada di atas baku mutu. Artinya, 55 hari di sepanjang tahun masyarakat Kota Bandung mengisap udara yang membahayakan kesehatannya. Suhu Kota Bandung pun bertambah 0,30 setiap tahun. (Pikiran Rakyat, 27 Oktober 2008)
Seminggu sebelumnya, Dada Rosada, Walikota Bandung, mengatakan bahwa pihaknya akan menyediakan jalur khusus untuk sepeda. Bisa jadi inilah kabar angin yang lumayan segar bagi kita semua yang menginginkan Kota Bandung ‘sedikit’ lebih baik daripada terus memperlebar jalan atau membangun jalan layang untuk mengatasi masalah kemacetan yang tiada habisnya. Kebetulan, pada 25 September 2008 lalu, Kota Bandung telah memasuki usianya yang ke-198 tahun. Tiga tahun yang lalu, Bambang Setia Budi, staf pengajar Departemen Arsitektur ITB, pernah menuliskan bahwa Kota Bandung telah mengalami perubahan yang begitu besar dibandingkan dengan awal-awal ketika kota ini dibangun. Sadar atau tidak, kota ini telah menjadi kota yang semakin tidak nyaman.
Tidak usah diceritakan bagaimana indahnya Kota Bandung tempo doeloe, letaknya yang strategis dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan menawarkan keindahan lingkungan alam lebih dari kebanyakan kota lainnya di Indonesia, sebuah kota yang udaranya relatif sejuk karena terletak pada dataran cukup tinggi (sekitar 630m di atas permukaan air laut), banyaknya taman-taman kota, dan pohon-pohon yang tinggi nan besar di sepanjang jalan-jalan kota.
Kini, dinamika perubahan di kota ini telah tumbuh dan bergerak sangat cepat. Kota Bandung yang awalnya dirancang sebagai kota taman dan peristirahatan untuk sekitar 250.000 penduduk, namun dari sensus tahun 2001 saja penduduk Kota Bandung sudah mencapai 2.141.847 orang. Sungguh sangat disayangkan, dinamika perubahan yang cepat itu tampaknya kurang diimbangi dengan perencanaan dan pengelolaan kota secara maksimal dan profesional. Hal ini dibuktikan dengan belum adanya konsep menata kota yang utuh, integral, dan bervisi jauh ke depan semisal 25-50 tahun ke depan. Bandingkan dengan Kota Melbourne yang memiliki visi 2030 yang menggagas kota kompak dengan guideline dan kebijakan yang menyeluruh khususnya masalah konsentrasi pembangunan pusat-pusat kota dan penyediaan infrastruktur transportasi masal.
Mau baca lebih lengkap? ^_^ Silakan kebet di Kabar Indonesia. Ssst ... sedikit menyinggung juga soal Bogota dan B2W. Dikiiit banget! Maaf ya, men-temen....
Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah saw. dengan 'Aisyah ra. yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Efeknya, orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai alat tuduh terhadap Rasulullah saw. dengan menganggapnya fedofilia. Mari kita buktikan. Secara keseluruhan, data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari hasil riset Dr. M. Syafii Antonio dalam buku Muhammad saw. The Super Leader Super Manager (2007).
Alasan Pertama: Kualitas Hadits
Hadits terkait usia 'Aisyah ra. saat menikah tergolong problematis alias dha'if. Beberapa riwayat yang menerangkan tentang pernikahan 'Aisyah ra. dengan Rasulullah saw. yang bertebaran dalam kitab-kitab Hadits hanya bersumber pada satu-satunya rawi yakni Hisyam bin 'Urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya. Cukup mengherankan mengapa hanya Hisyam saja yang pernah menyuarakan tentang usia pernikahan 'Aisyah ra. tersebut. Mengapa Abu Hurairah ataupun Malik bin Anas tidak mengatakannya? Itu pun baru diutarakan Hisyam tatkala telah bermukim di Iraq. Perlu diketahui bahwa Hisyam pindah ke negeri itu pada usia 71 tahun.
Mengenai Hisyam ini, Ya'qub bin Syaibah berkata, "Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat tepercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq." Syaibah menambahkan bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq (Ibn Hajar Al-Asqalani, Tahzib Al-Tahzib. Dar Ihya Al-Turats Al-Islami, Jilid II, hal. 50). Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi Hadits, tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun (Al-Maktabah Al-Athriyah, Jilid 4, hal. 301). Alhasil, riwayat usia pernikahan Aisyah ra. yang bersumber dari Hisyam bin 'Urwah, TERTOLAK.
Alasan Kedua: Urutan Peristiwa Kronologis
Terlebih dahulu perlu diketahui peristiwa-peristiwa penting yang dipaparkan secara kronologis ini:
Pra-610 M : Zaman Jahiliyah
610 M : Permulaan Wahyu turun
610 M : Abu Bakar ra. masuk Islam
613 M : Nabi Muhammad saw. mulai berdakwah secara terbuka
615 M : Umat Islam hijrah I ke Habasyah
616 M : Umar bin Khattab masuk Islam
620 M : 'Aisyah ra. dinikahkan
622 M : Hijrah ke Madinah (1 H)
623-624 M : 'Aisyah ra. tinggal serumah sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad saw.
Menurut Al-Thabari, keempat anak Abu Bakar ra. dilahirkan oleh isterinya pada zaman Jahiliyah, artinya sebelum 610 M. Jika 'Aisyah ra. dinikahkan pada usia 6 tahun berarti beliau lahir tahun 613 M, padahal menurut Al-Thabari semua keempat anak Abu Bakar ra. lahir pada zaman Jahiliyah, yaitu sebelum tahun 610. Jadi, kalau 'Aisyah ra. dinikahkan pada 620 M maka beliau dinikahkan pada usia di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad saw. pada usia di atas 13 tahun. Kalau di atas 13 tahun, pada usia berapakah pastinya beliau dinikahkan dan tinggal serumah? Untuk menjawabnya, mari kita lihat melalui kakak perempuan 'Aisyah ra., yaitu Asma binti Abu Bakar ra.
Perhitungan Usia 'Aisyah ra.
Menurut Abdurrahman bin Abi Zannad, "Asma berusia 10 tahun lebih tua dari 'Aisyah ra." (At-Thabari, Tarikh Al-Mamluk, Jilid 4, hal. 50). Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal antara tahun 73 atau 74 Hijriyah (Al-Asqalani, Taqrib Al-Tahzib, hal. 654).
Artinya, apabila Asma meninggal pada usia 100 tahun dan kita anggap meninggal pada tahun 73 Hijriyah maka Asma berusia 27 tahun (100 - 73) pada waktu Hijrah (622 M) sehingga 'Aisyah ra. pada saat yang bersamaan berusia 17 tahun (27 - 10). Dengan demikian, berarti 'Aisyah ra. mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad saw. pada usia 18 tahun. Wallahu-a'lam bishshawab.
Rijalul Imam
Direktur ISCDIC (Indonesian Students Community
for Development of Islamic Civilization)
NB: Artikel ini bisa jadi pertama kali ditulis oleh M. Nur Abdurrahman.
Kapan pertama kali sobat baraya nge-blog?
Yuk, kita sharing kapan pertama kali nge-blog di http://bangaswi.com dengan tampilan baru. Mohon komentar dan kritikannya ya. Theme "Laskar Pelangi" sengaja dipilih untuk mendukung film tersebut yang mengutamakan pendidikan (terutama dunia membaca). Mari ... Berbagi Bacaan.
Salam....