Entah kebetulan atau mungkin memang keberuntungan, pada akhirnya Kabayan berkesempatan untuk melancong ke luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, ia tidak pergi ke Perancis yang terkenal dengan keromantisannya atau ke Amerika yang terkenal dengan ke-“cowboy”-annya, melainkan ke Kolombia.
     “Kolombia?” tanya Kabayan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Matanya pun langsung melihat peta yang telah dipegangnya. “Kolombia teh di mana?” tanyanya sendiri menelusuri peta yang memang tidak dikuasainya.
     “Bukan di situ,” sahut seseorang tiba-tiba mengejutkan Kabayan.
     Kabayan pun menoleh. Di sebelahnya kini berdiri seseorang dengan pakaian rapi, jangkung gede (maklum, orang bule), dan ia tersenyum ramah.
     Busyet, orang bule ternyata juga bisa bahasa Indonesia, ujar Kabayan dalam hati keheranan. “Halo, Mister,” sahut Kabayan mesem-mesem mengulurkan tangan kanannya, “perkenalkan, saya teh Kabayan. Asli orang Indonesia, tepatnya dari bumi parahyangan, Bandung, sama dengan Iteung. Kota peuyeum tea. Kumaha, Mister, damang?”
    Si Mister hanya tersenyum. Ia pun mengulurkan tangan kanannya. “Indonesia? Wow, negara yang sangat ramah. Saya pernah ke sana, tepatnya ke Jakarta. Oya, perkenalkan saya Enrique Penalosa.”

     “Erik … Pena…. Tunggu, Mister teh sodaranya Rossa, penyanyi susukaan saya yang dari Sumedang tea?”
    Mister Enrique hanya geleng-geleng kepala. “Sudahlah, panggil saya Enrique saja. Oke?”
    “Okelah, Mister Erik. Saya pun cukup dipanggil dengan Kabayan saja, tidak usah ada embel-embel Michael ataupun John. Da eta mah lain nami abdi.” Kabayan pun cengengesan.
    “Oya, melanjutkan yang tadi,” ujar Mister Enrique memotong, karena tidak mengerti bobodorannya Kabayan, “Kolombia itu ada di sini.” Mister Enrique menunjuk peta yang dipegang Kabayan, “Di Amerika Selatan, yang juga dikenal dengan Amerika Latin. Dan kita … sekarang ada di Kota Bogota, ibukota Kolombia.” Mister Enrique merentangkan kedua tangannya memperkenalkan keadaan sekelilingnya.
    “Ke heula,” potong Kabayan mencoba berpikir sesuatu. “Kolombia … Amerika Selatan … Latin. Waduh! Maaf ya, Mister Erik, tapi … bukankah negara ini teh terkenal dengan … narkobanya?”
    “Betul. Kamu betul, Kabayan. Dengan jumlah penduduk sekira tujuh juta jiwa, Bogota bukan hanya terkenal sebagai kota narkoba, tetapi juga terkenal dengan korupsi para pejabatnya, penculikan, dan tindak kejahatan lainnya yang tidak kalah seram. Tapi itu dulu, Kabayan. Bogota sekarang sudah berbeda. Bogota sudah menjadi kota yang lebih baik lagi.”
    “Berbeda gimana, Mister Erik?” tanya Kabayan tidak mengerti.
    Mister Enrique merangkul Kabayan. “Begini-begini, saya adalah mantan walikota Bogota, Kabayan.”
    “Waduh!” Kabayan melompat kaget. Tangannya pun segera dibasahi dengan ludahnya sendiri, lalu disisirkan pada rambutnya yang sedikit kriwil. “Maaf, Mister, kalau penampilan saya kurang bener. Jadi nggak enak, nih.”
    “Tidak apa-apa, Kabayan. Saya senang kok dengan gaya kamu yang apa adanya itu. Mungkin itulah ciri khas asli orang-orang di negara kamu ya. Sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang mencoba mengikuti gaya orang-orang barat.”
    Kabayan cengengesan. “Mister tau aja cara nyepet orang.”
    “Kita kembali ke topik semula.” Mister Enrique kemudian mengajak Kabayan duduk di tepi jalan. “Semuanya berawal pada tahun 1995 saat Bogota dipimpin oleh Antanus Mockus. Ia yang juga merupakan guru besar Matematika Universitas Columbia, berjanji akan mengubah kebiasaan masyarakat Bogota menjadi lebih baik lagi. Janji tersebut kemudian diteruskan dan berusaha diimplementasikan oleh saya saat terpilih menjadi walikota pada tahun 1998.”
    “Ke heula, Mister,” potong Kabayan mencoba berpikir cerdas, “berarti lama jabatan walikota di sini hanya tiga tahun ya?”
    “Betul, Kabayan,” jawab Enrique.
    “Tapi, naha di negara saya bisa sampai lima tahun ya? Bahkan, itupun bisa diperpanjang lagi sampai … aki-aki.” Kabayan nyengir. Malu dengan keadaan di negeri sendiri.
    Mister Enrique hanya bisa tersenyum. “Kalau masalah itu jangan tanya saya, Kabayan. Yang jelas, dengan masa jabatan tiga tahun, walikota terpilih harus benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik.”
    “He-eh, kuduna mah kitu.”
    “Sebelumnya, Bogota memiliki tingkat pengangguran 20%, dan 55% tingkat perekonomian masyarakatnya berada di bawah garis kemiskinan dengan penurunan nilai eksport dan politik yang tidak stabil. Jika dibandingkan, kota dengan tingkat kerusakan dan polusi yang buruk ini tidak lebih baik dari Jakarta. Bahkan, mungkin jauh lebih buruk lagi kondisinya.”
    “Berarti Bandung masih lebih baik ya, Mister,” potong Kabayan bangga.
    “Mudah-mudahan begitu, Kabayan. Tapi jangan lupa, masalah sampah juga jangan begitu saja diremehkan.”
    Kabayan tiba-tiba saja sudah menelan ludahnya sendiri. Mukanya segera disembunyikan karena sudah pasti akan terlihat merah.
    Mister Enrique tersenyum. “Segalanya memang butuh proses. Saat saya terpilih menjadi walikota, saya berkata di depan seluruh anggota dewan bahwa membangun kota tidak melulu harus untuk bisnis dan kendaraan, tetapi juga untuk anak-anak, anak muda, dan orang tua. Jadi membangun kota untuk masyarakat luas. Daripada membangun jalan, lebih baik kita bangun sarana pejalan kaki dan sepeda yang baik, membuat sistem transportasi umum yang handal, dan mengganti tiang-tiang iklan dengan pepohonan. Tujuannya cuma satu, yaitu kesejahteraan.”
    “Wah, mantep itu, Mister Erik.” Kabayan kemudian menatap langit, “Baheula mah, saya dan Iteung masih bisa jalan-jalan di bawah pepohonan yang rindang dengan udara yang sejuk di Bandung. Romantis lah pokokna. Tapi ayeuna mah seusah. Panas. Di mana-mana banyak bangunan dibangun, pohon-pohon dibabat habis. Mall-mall berdiri dengan megah, supermarket dan hypermarket mewabah, pasar-pasar tradisional terkucilkan.”
    “Itulah, Kabayan. Banyak yang tidak paham bahwa ciri kota yang sakit adalah banyaknya mall-mall yang berdiri karena pembangunan mall dipastikan telah memangkas ruang publik. Kota yang baik adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan perkapita atau kemajuan teknologinya. Kota yang baik membutuhkan tempat untuk masyarakatnya dapat berjalan kaki, sehingga mereka bisa berkumpul bersama. Kota yang baik harus menghormati harga diri manusia. Bahkan di kota-kota maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua orang memiliki hak yang sama.”
    “Saya sudah dapat membayangkan betapa indahnya itu, Mister.” Kabayan pun terlihat seperti berangan-angan dan tersenyum-senyum sendiri. Bibirnya pun membisikkan kata ‘Iteung’.
    “Ya, semua ini dilakukan untuk anak-anak. Jika kita menciptakan anak-anak yang bahagia, maka kita akan mempunyai segalanya, di samping masalah kesetaraan. Setiap dollar harus dapat digunakan untuk membahagiakan anak-anak. Dari pada membangun jalan baru, lebih baik membangun kota yang adil bagi semua orang. Pembangunan mall hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Mall hanya mencegah orang miskin tidak bisa masuk ke dalamnya. Jadi, ruang-ruang publik seperti jalan-jalan dan taman-taman yang harusnya ditambah. Pembangunan trotoar untuk warga adalah simbol demokrasi yang menunjukkan pemerintah menghargai orang yang berjalan kaki. Mereka sama pentingnya dengan orang yang mengendarai mobil seharga 20 ribu dolar.”
    “Duh, Iteung, kalau itu benar-benar terjadi di Bandung, kita bisa jalan-jalan lagi menyusuri Jl. Asia-Afrika, Jl. Braga, Jl. Cihampelas, bahkan Jl. Suci. Apalagi kalau itu juga terjadi di Jakarta, kalau perlu kita jalan dari Terminal Kampung Rambutan ke Monas.” Kabayan masih terlihat asyik dengan lamunannya.
    Mister Enrique tersenyum melihat kelakuan Kabayan. “Ngelamunnya asyik ya, Kabayan?”
    “Waduh!” Kabayan segera teringat bahwa ia sedang ngobrol dengan Mister Enrique. “Punten atuh, Mister Erik. Lagi ngebayangin jalan berdua sama Iteung nih.”
    “Ya, tidak apa-apa. Dulunya pun saya hanya bisa bermimpi untuk mewujudkan hal itu. Segalanya memang butuh proses. Saya pun mengawalinya dengan memberlakukan pelarangan penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya atau car free day pada Desember 1999 dan memaksa jutaan orang untuk menikmati lampu-lampu natal dari sepeda atau berjalan kaki dengan aman. Langkah berikutnya adalah menerapkan hari bebas kendaraan pada setiap hari kerja. Tidak mudah, karena banyak pula yang menyebut saya komunis terutama beberapa pengusaha dan orang kaya. Mereka berusaha untuk menggagalkan usaha saya itu. Saya katakan pada mereka, bahwa saya akan membatalkan kebijakan car free day jika memperoleh suara kurang dari 60% dan mereka setuju. Syukurlah, akhirnya 61% menyetujuinya. Saya pun juga membuat Transmilenio, yaitu sebuah sistem transportasi baru dalam mengelola angkutan umum atau disebut juga dengan Bus Rapid Transit.”
    “Trans … milenio?” tanya Kabayan tidak mengerti. “Apakah itu seperti Trans-Jakarta yang saya lihat di TV?”
    “Betul, persis sama. Pada saat car free day diberlakukan, tepatnya pada tanggal 24 Februari 2000 di mana satu setengah juta penduduk melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dan bersepeda, ternyata aktivitas pendidikan dan perekonomian sama sekali tidak terganggu seperti yang dibayangkan sebelumnya. Akhirnya, pada referendum kedua di bulan Oktober 2000, 70% suara menginginkan dilanjutkannya program car free day, bahkan 51% mendukung agar program itu dilakukan setiap hari selama 6 jam.”


Cyclorrutas


     “Ah, Iteung,” sahut Kabayan mesem-mesem sendiri, dengan terus memperhatikan penjelasan Mister Enrique.
     “Untuk melakukan perubahan besar itu, dananya diperoleh dari komponen pajak BBM yang tinggi. Kebijakan ini juga dibarengi dengan kebijakan pembatasan kendaraan dengan sistem plat nomor dan tarif parkir yang tinggi, terutama di perkotaan. Semua perubahan itu bukan tanpa resiko. Seorang politisi memang harus mempersiapkan diri untuk mengambil resiko. Politik harus membuat perubahan. Transmilenio yang kita terapkan pun tidak merugikan para penyedia jasa angkutan umum konvensional yang sudah ada. Mereka semua masih beroperasi. Transmilenio telah mengurangi 1 sampai 2 jam waktu tempuh pada koridor yang sama. Saat ini tarifnya hanya 900 pesos.”
     “900 pesos?” tanya Kabayan menghitung-hitung.
     Mister Enrique tertawa, “Kalau disetarakan dengan mata uang Indonesia, mungkin hanya sekitar … Rp.3000 saja. Dengan uang segitu, kamu sudah bisa berkeliling Bogota, Kabayan.”
     “Wah, murah sekali, Mister Erik.”
     “Oya, kita pun akan membangun 374 km jalan sepeda yang terintegrasi dalam jaringan yang dikenal dengan nama Cyclorrutas, kendati baru terealisasi 270 km. Banyak warga kita yang bilang, Bogota memang tidak memiliki pantai, tetapi dia memiliki jalur sepeda. Jalur sepeda ini boleh dikatakan yang terpanjang di dunia. Coba bandingkan dengan jalur sepeda di Paris yang hanya sepanjang 195 km atau di Lima (Peru) yang panjangnya 43 km.”
     “Weleh-weleh, buat sepeda aja sampai segitunya, Mister.”
     “Harus,” tegas Mister Enrique. “Kita ingin membangun kota yang humanis atau ciudad humana. Jadi sudah sepantasnya kalau para pengguna sepeda maupun pejalan kaki harus dimanjakan. Kita ingin membuat Bogota menjadi kota yang layak huni, dan ternyata ini bukanlah mimpi. Kita bisa mewujudkannya. Bogota telah mempunyai prasarana pejalan kaki yang luas, prasarana rute sepeda yang baik dan panjang, serta prasarana dan sarana angkutan umum yang handal.”
     “Tapi, Mister,” Kabayan merengut, “saya sendiri naik sepeda buat angkut-angkut barang ke pasar, walaupun kadang-kadang … hehehe … buat nganter Iteung juga.” Kabayan tersenyum dengan mata memandang langit. “Eh, temen-temen saya yang lain malah kebanyakan buat dagang.”
     “Betul kamu, Kabayan. Banyak orang yang menilai kalau sepeda adalah kendaraan untuk orang miskin atau kalangan menengah ke bawah, terutama di negara-negara berkembang.” Mister Enrique menunjuk pada beberapa pengendara sepeda yang kebetulan lewat di depan mereka, “Lihat penampilan mereka, Kabayan, apakah mereka tergolong orang miskin?”
     Kabayan memperhatikan beberapa pengendara sepeda yang berdasi, membawa anak-anak di boncengan dengan pakaian yang bagus, beberapa juga dengan perlengkapan seperti helm, sarung tangan, dan pakaian olahraga yang terlihat mahal.
     “Nah, siapa bilang bahwa yang bekerja dengan naik sepeda atau orang yang sering naik sepeda itu miskin?” tegas Mister Enrique. “Banyak pengendara sepeda di beberapa kota besar termasuk di Bogota ini adalah orang-orang yang mampu, bahkan boleh dibilang orang-orang kaya. Kepedulian mereka terhadap lingkunganlah yang membuat mereka beralih dari kendaraan bermotor ke kendaraan non-motor. Kendaraan bermotor mulai dirasakan dampak buruknya, yaitu menimbulkan polusi udara dan suara, kemacetan di jalanan, memboroskan BBM, dan menyumbang tinggi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Jika hal ini terus berkelanjutan, akibatnya dapat kita rasakan bersama, yaitu BBM untuk generasi mendatang cepat habis, polusi udara sangat tinggi, waktu maupun BBM banyak terbuang sia-sia di jalan karena kemacetan. Dan buktinya, sudah kita ketahui bersama bahwa BBM hampir tiap tahun terus mengalami kenaikan harga.”
     “Betul, Mister Erik,” Kabayan meninjukan kepalan tangan kanannya pada tangan kirinya sendiri. “Sampai kapan BBM naik terus? Sedangkan saya, hanya memakai minyak tanah buat masak saja. Kalau begini terus mah, mending kembali ke hawu. Hemat, kendati mulut empot-empotan.”
     Mister Enrique tertawa. “Karena itulah naik sepeda merupakan salah satu alternatif yang paling mungkin dan efisien untuk menghemat energi. Hal ini mengingat sepeda tidak menggunakan BBM sama sekali dan dapat dimiliki oleh semua golongan.”
     “Tapi … saya agak ragu dengan orang-orang pemerintah di nagara abdi, Mister Erik.” Raut Kabayan terlihat sedih. “Masih mending Bogota punya Mister Erik yang peduli dengan lingkungan dan anak-anak. Apa mereka mau bersusah-payah menyediakan jalan khusus untuk sepeda, lah … untuk ngebangun sekolah-sekolah yang mau ambruk oge susahnya minta ampun.” Kabayan mencoba beramah-tamah dengan beberapa pengendara sepeda yang lewat dan tersenyum. Ia melambai-lambaikan tangannnya. “Nah, apalagi untuk mengajak orang-orang kebanyakan yang sudah terbiasa nyaman dengan kendaraan bermotor. Sok, kumaha eta teh, Mister Erik?”
     “Menurut Jan Ghell, seorang arsitek terkemuka dari Denmark, ada konsep lain dalam membangun jalan, yaitu undangan. Artinya, kalau kita mau mengundang pengendara sepeda, bangunlah jalur khusus sepeda. Namun, kalau mau mengundang pengendara bermotor, bangunlah jalan tol, jalan layang, atau terowongan. Dengan kata lain, jumlah pengendara sepeda secara otomatis akan meningkat bila di kota bersangkutan ada jalur khusus bersepeda. Sebagai contoh di Bogota, sebelum ada jalur khusus sepeda, pengendara sepeda hanya 4% saja. Tetapi setelah ada jalur khusus sepeda, dalam waktu lima tahun sudah naik menjadi 14 persen dari total perjalanan. Apabila tersedia angkutan umum yang aman, nyaman, dan tepat waktu serta tersedia jalur khusus sepeda dan fasilitas pejalan kaki yang aman dan nyaman, maka dengan sendirinya orang akan memilih ketiga fasilitas itu sebagai moda transportasi daripada naik mobil pribadi dan terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam di jalan dan memboroskan BBM.”
     “Atos ah, Mister Erik,” Kabayan berdiri sambil berkacak pinggang. “Lamun ndengerin Mister Erik ngomong mah, dijamin … Jakarta maupun Bandung, pasti akan menjadi kota yang ngeunah. Saya ge dijamin bisa jalan-jalan bareng atawa naik sepeda sareung Iteung. Euh … endahnya.” Kabayan kemudian mengangkat pecinya dan menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi saya mah pesimis sama pejabat-pejabat pemerintah di negara saya. Teu percaya!”
     “Sudahlah, Kabayan,” rujuk Mister Enrique, “jangan berpikir negatif seperti itu. Bukan tidak mungkin kalau Indonesia suatu saat akan lebih baik lagi dari negara manapun, bahkan mungkin lebih baik lagi dari Kota Bogota ini. Yakinlah terhadap pemerintahan sendiri.”
     “Duka eta mah, Mister.”
     “Waduh, Kabayan sudah bosan ya.” Mister Enrique kemudian berjalan ke arah dua sepeda yang diparkir di dekat sana. “Ayo, Kabayan, kita jalan-jalan. Mumpung di Bogota, saya tunjukkan dan ceritakan semuanya, biar tidak bosan dan marah-marah terus.”
     “Hayu lah,” sambut Kabayan langsung mengambil sepeda satunya dan menggowes dengan hati sedikit bungah.
     “Lajur pedestrian dan sepeda di Bogota telah menjadi bagian penting dari akses lalu lintas,” ujar Mister Enrique sambil mengayuh sepedanya. “Jalur-jalur pedestrian dan sepeda itu bahkan menembus berbagai kawasan dan permukiman Bogota. Kami pun juga membuat beberapa regulasi yang berkaitan dengan ini. Setiap hari Minggu misalnya, jalan raya dijadikan jalur khusus sepeda yang dikenal sebagai Ciclovias. Jalan itu tertutup untuk angkutan bermotor dan hanya diperbolehkan untuk pedestrian, pesepeda atau peseluncur dengan sepatu roda atau skateboard. Kegiatan ini telah diikuti oleh dua juta orang dan kami yakin kalau jumlah ini adalah yang terbesar dalam gerakan bebas berkendaraan bermotor di dunia.”
     “Edun euy!” teriak Kabayan mencoba menggowes lebih cepat, yang juga terus diikuti oleh Mister Enrique.
     “Kegiatan ini melibatkan seluruh komponen masyarakat,” lanjut Mister Enrique sedikit terengah-engah. “Tua muda, bahkan anak-anak, banyak yang bersepeda, termasuk juga ada yang sembari mengasuh anak balitanya dengan menggunakan sepatu roda atau sepeda mini. Kami menikmati kegiatan bebas kendaraan bermotor ini. Warung-warung minum atau makanan ringan, bengkel sepeda sementara sepanjang jalan sepeda, yang hanya buka saat kegiatan ini berlangsung, siap menerima para pengayuh sepeda yang ingin melepas lelah. Begitu juga bengkel sepeda dadakan siap menerima reparasi ringan sepeda warga. Para sukarelawan Ciclovias pun selalu sedia membantu walau hanya untuk mengarahkan jalan atau menghentikan kendaraan bermotor yang akan melintas demi kenyamanan para pejalan kaki atau pesepeda.”
     “Ada artisnya nggak, Mister?” tanya Kabayan sedikit melambat karena sudah merasa kelelahan. “Hah….”
     “Jelas ada,” jawab Mister Enrique bangga. “Untuk mengkampanyekan hal ini, sudah pasti beberapa artis kami ajak untuk turut serta. Dan ternyata, mereka pun bangga dengan kegiatan ini. Kami harus meyakinkan warga bahwa sepeda itu juga modis. Oya, kamu lihat itu, Kabayan,” tunjuk Mister Enrique pada beberapa bangungan kecil yang apik di pinggir jalan.
     “Apa itu, Mister?”
     “Untuk kelancaran program ini, kami pun membangun sarana pendukung. Contohnya bangunan tadi yang bukan lain adalah toilet, lalu ada juga bangku tempat kita duduk tadi untuk beristirahat hingga tempat parkir sepeda. Jembatan penyeberangan pun kami buat meliuk-liuk agar bersepeda menjadi lebih menyenangkan.”


Bogota Plaza


     “Edun lah pokokna, Mister Erik,” sahut Kabayan menghentikan sepedanya. “Tapi … tetap saja saya tidak yakin kalau semua itu bisa terjadi di negara Indonesia.”
     Mister Enrique menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Semuanya kan perlu proses, Kabayan. Dan proses itu, biasanya berawal dari hal-hal yang kecil.”
     “Maksud Mister?” tanya Kabayana tidak mengerti.
     “Sewaktu berkunjung ke Jakarta, saya lihat beberapa orang sudah memulai menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuk bekerja. Hal itu sudah merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat, tetapi juga harus didukung oleh media agar kampanye itu berhasil.”
     “Media?”
     “Ya,” tegas Mister Enrique. “Kampanye yang bersifat berkelompok akan lebih cepat diterima dibandingkan hanya sendiri-sendiri. Makanya media akan menjadi faktor penting sebagai sarana kampanye yang efektif. Bukan hanya untuk diketahui oleh warga di kota tersebut, tetapi juga sebagai cara untuk mencari simpati di belahan kota lainnya, bahkan masyarakat dunia sekalipun.”
     “Wah, begitu ya,” Kabayan mulai terlihat seperti berpikir.
     “Lagi berpikir apa, Kabayan?” tanya Mister Enrique penasaran.
     “Saya jadi keingetan temen saya di bumi parahyangan, Mister,” jawab Kabayan terlihat sumringah. “Di Kota Bandung tea.”
     “Siapa?”
     “Temen saya itu sudah senang bersepeda sejak kecil, dan sekarang pun hampir tiap hari bekerja dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya. Nah, kebetulan juga kalau dia adalah seorang penulis.”
     “Itu luar biasa, Kabayan,” sahut Mister Enrique. “Mungkin temen kamu itu bisa mengkampanyekan sepeda sebagai alat transportasi yang nyaman, praktis, sehat, dan bersahabat melalui tulisan-tulisannya. Apalagi dia juga adalah seorang penggiatnya.”
     “Betul, Mister Erik.”
     “Ngomong-ngomong, siapa namanya?” tanya Mister Enrique penasaran.
     “Aswi!” jawab Kabayan mantap.[]